Rabu, 16 Desember 2015

#SIP Kecerdasan Buatan atau Artificial Intellegence (AI)

Nama: Eva Jayanti Ruspita
Kelas: 4PA08
NPM: 12512573



Sejarah AI
Artificial Intelligence (AI) atau dapat disebut dengan kecerdasan buatan adalah aktivitas penyediaan mesin seperti komputer dengan kemampuan menampilkan perilaku yang akan dianggap sama cerdasnya dengan jika kemampuan tersebut ditampilkan oleh manusia. Selain itu, Minsky (dalam Kusrini, 2006) juga menyebutkan bahwa kecerdasan buatan adalah suatu ilmu yang mempelajari cara membuat komputer melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh manusia. AI merupakan aplikasi komputer paling canggih karena aplikasi ini berusaha mencontoh cara pemikiran manusia.
Bibit AI pertama kali disebar hanya 2 tahun setelah General Electric menerapkan komputer yang pertama kali digunakan untuk penggunaan bisnis. Tahun itu adalah tahun 1956, dan istilah kecerdasan buatan pertama kali dibuat oleh John McCarthy sebagai tema suatu konferensi yang dilaksanakan di Dartmouth College. Pada tahun yang sama, program komputer AI pertama yang disebut Logic Theorist diumumkan. Kemampuan Logic Theorist yang terbatas untuk berfikir (membuktikan teorema-teorema kalkulus) mendorong para ilmuwan untuk merancang program AI yang disebut General Problem Solver (GPS), yang ditujukan untuk digunakan dalam memecahkan segala macam masalah. Proyek ini ternyata membuat para ilmuwan yang pertama kali menyusun program ini kewalahan, dan riset AI dikalahkan oleh aplikasi-aplikasi komputer yang tidak terlalu ambisius seperti SIM dan DSS. Namun seiring waktu, riset yang terus menerus akhirnya membuahkan hasil, dan AI telah menjadi wilayah aplikasi komputer yang solid. (McLeod dan Schell, 2008)

Hubungan AI dengan kognisi manusia

Pada dasarnya AI atau kecerdasan buatan merupakan terobosan teknologi yang dibuat oleh manusia yang dipergunakan untuk memudahkan kerja manusia. AI dihasilkan dari adanya proses pemikiran manusia atau kognisi. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga, dan menilai (Suardi, 2015). Dalam arti lain kognisi terkait dengan kemampuan berfikir. Dengan adanya kemampuan berfikir dari manusia sehingga menghasilkan sesuatu yang sampai saat ini masih digunakan dan sangat membantu kerja manusia dalam segala bidang yaitu AI. Tanpa adanya kognisi manusia maka AI tidak akan tercipta, sekalipun pada dasarnya ada perbedaan antara AI dan kognisi manusia masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya namun jika ditinjau kembali AI dan kognisi manusia saling membutuhkan satu sama lain. AI tidak akan tercipta jika tidak ada kognisi manusia, dan manusia juga membutuhkan AI dalam kehidupannya sehari-hari. Berikut ini akan dijelaskan beberapa keuntungan AI dan keuntungan kecerdasan manusia menurut Kusrini (2006).
Keuntungan kecerdasan buatan dibanding kecerdasan alamiah;
   1.      Lebih permanen
   2.      Memberikan kemudahakn dalam duplikasi dan penyebaran
   3.      Relative lebih murah dari kecerdasan alamiah
   4.      Konsisten dan teliti
   5.      Dapat didokumentasi
   6.      Dapat mengerjakan beberapa task dengan lebih cepat dan lebih baik dibanding manusia

Keuntungan kecerdasan alamiah dibanding kecerdasan buatan adalah
1.  Bersifat lebih kreatif
   2.  Dapat melakukan proses pembelajaran secara langsung, sementara AI harus mendapatkan masukan berupa symbol dan representasi-representasi
3.  Menggunakan fokus yang luas sebagai AI referensi untuk pengambilan keputusan. Sebaliknya, AI  menggunakan fokus yang sempit.

Komputer yang menggunakan AI dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang objek, kegiatan (events), proses dan dapat memproses sejumlah besar informasi dengan lebih efisien daripada yang data dikerjakan manusia. Namun di sisi lain, dengan menggunakan insting, manusia dapat melakukan hal yang sulit untuk deprogram pada komputer. Manusia dapat mengenali (recognize) hubungan antara beberapa hal, menilai kualitas dan menemukan pola yang menjelaskan hubungan tersebut.



Daftar pustaka:
McLeod, R., dan Schell, G. P. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Salemba Empat.
Kusrini. (2006). Sistem pakar, teori, dan aplikasi. Yogyakarta: CV Andi Offset
Suardi, M. (2015). Belajar dan pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish

Tidak ada komentar:

Posting Komentar